Kebijakan Luar Negeri Trump yang Tak Bisa Ditebak Membuat Dunia Bertanya

Washington - Membangun tembok perbatasan, memperbaiki hubungan dengan Rusia, mencabut kesepakatan perdagangan bebas dan memaksa sekutu Amerika Serikat (AS) berkontribusi lebih demi keamanan. Arah kebijakan luar negeri presiden terpilih AS Donald Trump yang tak bisa ditebak membuat dunia bertanya.
Selain mengindikasikan kebijakan ekonomi yang isolasionisme dan proteksionisme, Trump tidak pernah menggambarkan secara rinci arah kebijakan luar negerinya. Sekarang, berselang 10 minggu sebelum pelantikannya pada Januari 2017, sekutu dan musuh AS berjibaku mencari petunjuk soal Trump.
Seperti dilansir AFP, Kamis (10/11/2016), Trump mungkin memang sengaja memberikan informasi samar-samar soal arah kebijakannya. Dalam salah satu pidato kampanyenya beberapa waktu lalu, Trump bersikeras memegang teguh 'elemen kejutan' dalam kepemimpinannya.
Menilik ke belakang, tepatnya pada Januari lalu, Trump pernah ditanya jika dirinya menjadi presiden AS, apakah dia lebih memilih membombardir lokasi nuklir Iran daripada bergantung pada kesepakatan perundingan.
"Saya ingin menjadi sosok yang tidak bisa ditebak," jawab Trump saat itu.
Pada masa-masa akhir kampanyenya, Trump berulang kali menghina operasi militer Irak, yang didukung AS, untuk membebaskan Mosul dari Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Mengapa jenderal-jenderal Presiden Barack Obama mengumumkan operasi itu 4 bulan sebelumnya, untuk memberikan pemberitahuan pada ISIS?
"Sungguh sekelompok pecundang," sebut Trump, akhir pekan lalu, saat pasukan Irak dan Kurdi yang didukung kekuatan udara AS semakin mendekati Mosul.
"Kita membutuhkan pemikiran berbeda di negara ini. Mereka seharusnya tetap diam," imbuhnya.
Namun Trump tetap teguh dengan sikapnya, sembari menyinggung pengalamannya berunding dalam kesepakatan properti, bahwa menjadi tidak bisa ditebak akan menjadi keuntungan.
"Dia (Trump) tidak memiliki rekam jejak kebijakan luar negeri yang bisa dianalisis. Jadi tergantung pada retorika kampanyenya. Dan retorika kampanye biasanya melunak begitu menginjak realita saat menjabat," sebut mantan Direktur Badan Intelijen AS CIA dan Badan Keamanan Nasional AS NSA, Michael Hayden, dalam jurnal online, The Cipher Brief.
Retorika Trump Cenderung Agresif
Retorika kampanye Trump sendiri cenderung agresif. Tahun lalu, rencana Trump untuk menghancurkan ISIS adalah: "Saya akan mengebom mereka. Saya akan mengebom pecundang-pecundang itu."
Kemudian, Trump pernah menyerukan 'kesepakatan' besar dengan rival-rival AS demi melawan apa yang disebutnya sebagai 'ekstremisme radikal Islam'. "Tidakkah akan baik jika kita berhubungan baik dengan Rusia dan China dan semua negara-negara ini?" ujar Trump pada Januari lalu.
Sekutu-sekutu AS seperti Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi dan anggota NATO di Eropa diwajibkan Trump untuk berkontribusi lebih besar, karena Trump tidak ingin ada 'free rider' untuk AS.
Masa kepresidenan Trump tampaknya akan dipenuhi sikap skeptis terhadap perdagangan bebas, karena Trump meyakini negara pengekspor seperti China banyak mencuri lapangan pekerjaan dari AS. Trump juga pernah mengancam akan menghapus kesepakatan perdagangan bebas seperti North American Free Trade Area (NAFTA) dan memaksa Meksiko membayar tarif untuk membiayai pembangunan tembok perbatasan dengan AS.
Tidak hanya itu, Trump juga menggaungkan pemberlakuan kembali wewenang penggunaan penyiksaan dalam proses interogasi intelijen AS. Hal itu memicu kekhawatiran di kalangan sekutu dan intelijen AS sendiri.
Tahun lalu, AS dan sekitar 180 negara menandatangani kesepakatan bersejarah untuk memperlambat perubahan iklim, isu yang dianggap Trump sebagai hoax belaka. Dan pengungsi Suriah, tampaknya tidak akan lagi bisa masuk ke AS karena Trump menganggap mereka berisiko tinggi membawa kekerasan ekstremis.
Singkatnya, seluruh kebijakan luar negeri era Obama terancam di bawah Trump, bahkan termasuk upaya menormalisasi hubungan dengan Kuba. Tapi begitu menjabat di Gedung Putih dan mendapat nasihat dari Dewan Keamanan Nasional AS, Departemen Luar Negeri dan Perwakilan Perdagangan AS, akankah Trump mengikuti saran mereka?
Siapa yang tahu? Trump kan tidak bisa ditebak.
https://www.jaranhosting.com>
No comments