https://www.jaranhosting.com

https://www.jaranhosting.com>

Berita Hangat

Pembantu Rampok Majikan, Bawa Lari Puluhan Juta

Rumah majikan yang dirampok mantan pembantu (kiri), dan Rumiati, pembantu baru yang dipukul perampok.
MEDAN - Pernah mencuri lalu dipecat sebagai pembantu rumah tangga, bukannya membuat Widya Astuti menjadi insyaf. Perempuan 22 tahun itu malah kian nekat. Dia membujuk suaminya, Lukman Hakim (26), untuk sama-sama merampok rumah mantan majikannya.
Entah dari mana Widya Astuti dan Lukman Hakim tahu bahwa rumah mantan majikannya, Amril Lukman (36) dan Roziah (35) yang terletak di Jalan Pasar III, Gang Bersama Nomor 8, Kecamatan Medan Timur, membutuhkan air galon isi ulang.
Yang pasti, pasangan suami (pasutri) itu berpura-pura sebagai pengantar air isi ulang. Lalu mendatangi rumah majikannya, Kamis (13/10) siang. Saat pintu digedor, Rumiati (43) yang bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut, membuka pintu. Selanjutnya mempersilakan pelaku masuk dan membawa satu galon yang berisi air.
Pengakuan Rumiati, kepalanya tiba-tiba dipukul dari belakang. Dia pun rebah dan tangannya diikat, serta mulut dan matanya dilakban. Setelah itu, pelaku bebas menggasak harta benda pemilik rumah yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Informasi dihimpun dari Irmansyah (40), abang kandung Roziah, perampokan yang terjadi di rumah adiknya tersebut terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat itu cuma Rumiati yang berada di rumah.
Menurut Irmansyah, kedua pelaku yang tercatat warga Pasar XI Desa Kolam Tembung tersebut, datang ke rumah Roziah menggunakan becak bermotor yang disewa pasutri itu.
“Saat pembantu itu (Rumiati) sudah diikat dan dilakban. Pelaku langsung mengambil barang-barang seperti TV 40 inci, plastation 5, tabung gas 15 kg , reskuker, satu unit laptop, minyak makan satu kardus dan langsung membawanya kabur dengan menggunakan becak motor,” terang Irwansyah.
Masih menurut warga Jalan Prumnas Mandala Gang Sepakat, Percut Sei Tuan itu, rumah adiknya tersebut memang setiap hari tidak ada orang, Karena kedua adiknya itu bekerja. Peristiwa kemalingan di rumah rumah tersebut ternyata bukan pertama kali terjadi.
“Suaminya kerja di bank BNI, dan istrinya seorang PNS. Makanya rumah ini setiap hari hanya ada pembantu dan ke 3 anaknya yang masih kecil-kecil. Sekitar 2 tahun yang lalu lah rumah ini juga pernah di santroni maling,” katanya.
Sempat Melawan
Akibat peristiwa pemukulan yang dialami Rumiati, dia harus dibawa ke Rumah Sakit Umum Imelda. Dan harus mendapatkan 11 jahitan di bagian kepala. Ketika disambangi di ruangan IGD, dia mengatakan, kepalanya dipukul dua kali. Pemukulan pertama dia tidak langsung jatuh dan sempat melakukan perlawanan. Tapi pelaku kembali memukulnya, dan kedua kalinya itu dia pun tumbang.
“Saat itu aku juga sempat bergumul sama dia (pelaku-red). Tapi dipukulnya lagi kepala aku untuk kedua kalinya, makanya aku jatuh. Di situlah tangan aku diikatnya, dan mulut sama mataku dilakbannya, dan dia mengancam kalau aku ribut aku akan dibunuhnya,” aku Rumiati dengan nada pelan menahan sakit.
Walau menahan sakit, pembantu rumah tangga ini masih bisa memberi keterangan. Setelah pelaku sudah keluar dengan membawa barang-barang hasil jarahannya, Rumiati berusaha membuka ikatan tangannya sendiri. Usaha itu pun berhasil, dan seketika dia keluar rumah dan berteriak.
“Aku buka sendiri ikatan tangan aku, lihat tangan aku ini sampai bengkak. Setelah terbuka ikatan, baru aku teriaki rampok, tetapi para pelaku sudah kabur. Masih sakit kali kepala aku ini, di depan 7 jahitan, di belakang 5 jahitan,” tutur warga yang menetap di Jalan Marelan Desa Helvetia ini sambil merintih.
Para tetangga yang mendengar jeritan Rumiati, langsung berdatangan dan membantunya membawa ke RS Imelda. Setelah itu, pemilik rumah pun melaporkan kejadian itu ke Mapolsek Medan Timur.
Personil Reskrim Polsek Medan Timur yang mengetahui adanya aksi perampokan tersebut segera turun ke lokasi kejadian dan memeriksa rekaman CCTV milik tetangga korban.
Dari rekaman CCTV tersebut, petugas mengetahui ciri-ciri kedua pelaku. Salah seorangnya ternyata Widya, yang pernah bekerja sebagai pembantu di rumah korban. Setelah mengetahui identitas, polisi langsung mengejar dan menggerebek kediaman yang dihuni pasutri itu. Tanpa memberikan perlawanan, mereka berhasil diringkus, berikut barang bukti yang dijarah.
Kepada polisi, Lukman Hakim mengaku awalnya dia masuk ke rumah korban dengan modus pura-pura mengantar galon isi ulang. “Saya pura-pura kerja pengantar galon. Begitu berhasil masuk, saya dorong pembantu itu dan setelah jatuh saya pukul kepalanya dengan kayu, terus saya ikat,” katanya, sembari mengatakan lakban untuk membekap Rumiati telah dipersiapkan dari rumahnya.
Dia juga mengakui, bahwa istrinya, Widya Astuti, pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga Rozia. "Istri saya mantan pembantu di situ," akunya di Mapolsek Medan Timur.
Terpisah, Rozia juga mengaku, bahwa Widia pernah ia pekerjakan. Tapi hanya beberapa hari kerja saja sebagai pembantu di rumahnya. "Dia (Widya) saya berhentikan karena ketahuan mencuri. Terus saya pecat dia," ujar Rozia.
Kapolsek Medan Timur Kompol BL Malau melalui Kanit Reskrim Iptu MS Ginting mengaku kedua tersangka masih dalam pemeriksaan. "Kita menduga ada seorang pelaku lagi yang terlibat," ucapnya.

No comments